Tampilkan postingan dengan label cerita panas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita panas. Tampilkan semua postingan

Antara Temanggung & Semarang

Minggu, Januari 02, 2011

Aku adalah lelaki berumur 29 Tahun, namaku sebut saja Andi dan sudah menikah bahkan mempunyai seorang anak laki-laki 3 tahun. Cerita ini berawal ketika aku mengantar istriku dalam rangka liburannya (dia seorang dosen) ke salah satu kabupaten di Karesidenan Banyumas sana dan aku sendiri bekerja sebagai "officer" di salah satu perusahaan PMA di Surabaya. Sekembalinya aku dari Banyumas itu aku lewat jalur Wonosobo karena untuk ke arah Semarang lebih cepat. Saat bus berhenti di agen Temanggung teringatlah aku memory dengan bekas pacarku saat aku kuliah di Semarang dan karena kedua orangtuanya tidak setuju akhirnya kami berpisah secara baik-baik.
Dia adalah gadis di sebuah desa di lereng Gunung Sumbing. Wajahnya bulat cantik, bibirnya mirip penyayi Paramitha Rusadi dan bodinya ambooyy. "Aaah..." aku menghela nafas kembali sejenak melintas bayangan wajah itu, wajah seorang Yunita. Dan aku masih mengenang sebuah "French kiss" perpisahan kami di bentangan kebun teh itu dan berlanjut hingga mahkotanya yang terjaga selama ini diserahkan kepadaku. Diiringi mentari yang menyelimuti dirinya dengan kabut putih beriringan dengan desahan dan lenguhan di antara sejuknya udara kota itu. Ada sedikit tanda merah yang tertinggal di rok dalamnya sebelum aku meminta diri untuk meninggalkan semua yang ada di dirinya.

"Maaf Mas apa kursi ini kosong?" tanya suara itu.

Antara Jogja dan Bekasi

Sebuah kisah nyata yang terjadi pada pertengahan tahun 2001, diawal musim kemarau yang panjang.

Pada saat kisah ini terjadi aku masih berusia 19 tahun. Pada pertengahan tahun 2001 aku menadapat telpon dari keluarga agar segera datang ke Bekasi Jawa Barat, dikarenakan adanya acara rembugan keluarga besarku. Sebenarnya aku kurang begitu tertarik dengan acara rembugan keluarga yang terasa amat menjemukan, karena aku lebih tertarik pada world IT, yang memang pada tahun itu demam internet di Jogja benar-benar mencapai puncaknya dengan munculnya banyak warung internet laksana jamur di musim hujan.

Singkat kata, aku segera memesan tiket bus malam jurusan bekasi yaitu bus "SA", karena aku sudah mengenal salah satu stafnya sehingga mudah bagiku untuk mendapatkan tempat duduk yang kuinginkan. Maka keesokan harinya aku berangkat dari terminal Umbulharjo yang kini sudah rata dengan tanah. Ternyata penumpang sore itu teramat sepi hanya beberapa orang saja, praktis kami bebas meilih tempat duduk sesuai yang kami inginkan.

Pada jam 17:00 tibalah bis di pool pemberhentian di kantor pusat mereka di Kutoarjo Jawa Tengah. Disini kami cukup lama berhenti karena ada beberapa penumpang baru. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan para penumpang baru itu karena mereka semua para rombongan dari beberapa keluarga. Tanpa sengaja perhatianku terarah pada seorang gadis yang langsing tinggi badan 160 an rambut sepunggung kult sawo matang. Ternyata dia berangkat bersama kakaknya yang telah bersuami. Gadis itu duduk di bangku tengah kalo tidak salah seat 11-12 dia duduk sendiri sementara kakaknya duduk di seat 7-8 tepat didepannya. Dikarenakan para penumpang baru banyak para lanjut usia maka munculnya jiwa sosialku untuk memberikan tempat dudukku kepada mereka, kemudian aku pindah agak kebelakang pada seat 15-16 tepat di belakang gadis yang barusan naik.

Aku dipakai anak kos

Namaku Evita dan Suamiku Edo. Kami baru satu tahun melangsungkan perkimpoian, tapi belum ada pertanda aku hamil. Sudah kucoba berdua periksa siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke Discotik, merokok dan sedikit mabuk. Itu kita lakukan setiap malam minggu selama tiga tahun, selama masa pacaran berlangsung.


Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang satu minggu di luar kota, karena rasa kasihannya terhadapku, maka dia berniat untuk menyekat rumahku untuk membuka tempat kost agar aku tidak merasa sendirian di rumah.


Mula-mula empat kamar tersebut kami kost-kan untuk cewek-cewek, ada yang mahasiswa ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol-ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin tambah bising, setiap hari ada yang apel sampai larut malam, apalagi malam minggu, aduh bising sekali bahkan aku semakin iri pada mereka untuk kumpul bersama-sama satu keluarga. Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan hal-hal yang tiap hari kualami, akhirnya kita putuskan untuk membubarkan tempat kost tersebut dengan alasan rumah mau kita jual. Akhirnya mereka pun pada pamitan pindah kost.


Bulan berikutnya kita sepakat untuk ganti warna dengan cara kontrak satu kamar langsung satu tahun khusus karyawan-karyawan dengan syarat satu kamar untuk satu orang jadi tidak terlalu pusing untuk memikirkan ramai atau pun pulang malam. Apalagi lokasi rumah kami di pinggir jalan jadi tetangga-tetangga pada cuek. Satu kamar diisi seorang bule berbadan gede, putih dan cakep. Untuk ukuran harga kamar kami langsung dikontan dua tahun dan ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

Contact me